GEDE IWAN | Simple Touch!


Mengenal Bisnis “Money Game”

Beberapa dari kita mungkin pernah mendapat tawaran bisnis money game. Dalam kenyataannya, bisnis ini sering kali bagus bagi mereka yang baru saja bergabung, tapi tidak bagus bagi mereka yang bergabung belakangan. Apa dan bagaimana money game, bisa disimak di artikel berikut ini.

Bu Yeni sedang kebingungan. Pasalnya, seorang temannya baru saja datang ke rumahnya dan menawarkan suatu bisnis baru yang kelihatannya cukup menarik. Dengan sebuah kertas, temannya menggambarkan bagaimana bisnis itu bisa berjalan.

Apa sih bisnisnya? “Ini MLM”, kata temannya. Oke, MLM (multi level marketing). Tapi kok di sini tidak ada produk yang dijual? Yang ada adalah bahwa Bu Yeni diminta membayar sejumlah dana, setelah itu, ia harus mencari dua orang untuk ia sponsori (dua orang itu maksimal).

Nantinya, dengan bantuan Bu Yeni, kedua orang tersebut harus bisa mensponsori dua orang lagi, dan seterusnya. Setelah sampai pada level tertentu, Bu Yeni akan mendapatkan sejumlah uang, dan “permainan” itu dianggap selesai. Kalau mau, Bu Yeni bisa ikut lagi dengan mendaftar ulang dan mengulang lagi permainan itu.

Kelihatannya sih menarik. Ya, tawaran uangnya memang menarik. Dan kelihatannya sampai kapan pun yang namanya uang memang menarik. Tapi kalau nanti ada apa-apa bagaimana dong? Misalnya, perusahaannya lari. Atau bisa juga bangkrut seperti Gee Cosmos baru-baru ini.

Perlu diketahui bahwa bisnis yang hanya mengandalkan perekrutan saja seperti itu (tanpa ada produk yang dijual) disebut Bisnis Piramid. Kadang-kadang, bisnis piramid ini disebut juga Bisnis Money Game. Di Indonesia, bisnis ini lazim disebut Bisnis Penggandaan Uang.

Bagaimana sih ciri-ciri bisnis seperti itu?

  1. Perusahaan yang mengadakan bisnis itu biasanya mengatakan bahwa bisnisnya adalah bisnis MLM. Penggunaan istilah MLM oleh perusahaan money game biasanya adalah karena mereka tidak ingin bisnis orang jadi malas bergabung jika mereka terang-terangan menyebut nama money game. Karena itu mereka biasanya menyebut dirinya MLM, walaupun nama mereka tidak tercantum dalam APLI (APLI adalah singkatan dari Asosiasi Penjual Langsung Indonesia, sebuah asosiasi yang salah satu fungsinya adalah menyaring mana perusahaan yang betul-betul berbisnis penjualan langsung, entah itu dengan menggunakan sistem MLM atau tidak).Kalau nama mereka tercantum dalam APLI, pastilah mereka merupakan Perusahaan MLM yang sejati. Itulah sebabnya, kadang-kadang perusahaan money game seperti itu disebut perusahaan money game yang berkedok MLM.
  2. Anda akan diminta membayar sejumlah dana yang cukup besar hanya untuk mendaftar saja. Jumlahnya bervariasi, tapi minimal biasanya sekitar Rp 400 ribuan. Jumlah itu sebetulnya bisa dianggap cukup besar, mengingat Perusahaan MLM yang sejati biasanya hanya meminta biaya pendaftaran yang besarnya biasanya tidak sampai Rp 150 ribuan (itu pun tidak termasuk produk). Rendahnya biaya pendaftaran pada perusahaan MLM adalah agar semua orang bisa memiliki kesempatan yang sama untuk bisa bergabung. Sedangkan pada perusahaan money game, tingginya biaya pendaftaran yang diminta adalah karena mereka harus membayar bonus penghasilan bagi orang-orang di atas Anda yang sudah lebih dulu bergabung.
  3. Pada Perusahaan MLM sejati, biaya pendaftaran biasanya harus bisa dijangkau, karena bonus penghasilan yang akan dibayarkan hanya akan dibebankan pada produk yang terjual saja, bukan dari biaya pendaftaran.
  4. Bisnis money game biasanya tidak memiliki produk untuk dijual kepada konsumen. Padahal ini sebetulnya merupakan faktor kunci dari sebuah bisnis MLM yang sejati. Karena itulah, agar bisa terlihat sebagai sebuah MLM, beberapa perusahaan money game biasanya lalu membuat produk untuk bisa dijual. Namun seringkali yang ada adalah bahwa produk yang dijual tersebut memiliki kualitas dan mutu yang biasa-biasa saja kalau tidak mau disebut asal-asalan. Pada Perusahaan MLM, harus ada produk yang dijual (entah itu berupa barang atau jasa), dan produk tersebut haruslah memiliki kualitas yang cukup baik agar bisa bersaing di pasar. Faktor produk ini sebetulnya juga merupakan faktor kunci dari sebuah perusahaan untuk bisa disebut sebagai sebuah MLM atau tidak. Kalau bisnis yang ditawarkan kepada Anda tersebut tidak memiliki produk, atau mutu produknya asal-asalan saja, jangan sebut itu sebagai bisnis MLM. Itu jelas money game.
  5. Bisnis money game seringkali hanya menguntungkan orang orang yang pertama bergabung. Sedangkan orang-orang yang bergabung belakangan seringkali cuma ketiban pulung, entah itu perusahaannya bangkrut, lari atau ditutup, atau karena orang yang bergabung belakangan seringkali tidak bisa memiliki penghasilan yang lebih besar daripada orang yang bergabung lebih dulu. Itulah sebabnya bisnis seperti ini juga disebut bisnis piramid. Kalau di Perusahaan MLM sejati, walaupun Anda bergabung belakangan, Anda bisa punya kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada orang-orang di atas Anda yang sudah bergabung lebih dahulu.

Sekarang tinggal keputusan Anda apakah akan bergabung dengan bisnis money game yang ditawarkan kepada Anda atau tidak. Mau ikut pun tidak apa-apa karena di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang bisnis seperti itu. Hanya saja, risiko harus Anda tanggung sendiri.

Selamat memutuskan. (SSR)


Perlukah Suami Istri Memiliki Rekening Bersama?

Rekening bersama adalah rekening yang dimiliki atas nama dua orang, di mana biasanya kedua orang pemilik itu sama-sama memiliki hak untuk menarik uang tersebut. Dalam keluarga, Rekening bersama biasanya dimiliki oleh suami istri.

Namun ada kalanya rekening bersama hanya jadi sebutan belaka. Ada suami-istri yang memiliki rekening untuk digunakan bersama, tapi atas namanya hanya pada satu orang saja. Ini –secara tidak resmi– bisa juga kita sebut sebagai rekening bersama.

Sebagai pasangan suami-istri, mungkin sering timbul pertanyaan apakah Anda berdua perlu menyatukan uang Anda dalam satu rekening atau tidak. Nah, sebelum Anda memutuskan untuk menyatukan uang Anda dalam satu rekening, perlu diketahui bahwa ada banyak efek positif maupun negatif yang akan terjadi. Dan juga yang paling penting, apa motivasi terbesar Anda menyatukan uang Anda berdua dalam satu rekening.

Motivasi terbesar pasangan suami-istri ketika menyatukan uang mereka dalam satu rekening biasanya adalah karena mereka ingin mempunyai sesuatu yang dimiliki bersama (dan kalau perlu atas nama bersama), sehingga pada akhirnya akan meningkatkan rasa kebersamaan di antara mereka.

Selain itu, rekening bersama biasanya dibuka karena suami-istri itu mungkin memiliki tujuan bersama yang hendak diraih pada masa mendatang. Atau, sering juga rekening bersama itu digunakan untuk berbelanja keperluan sehari-hari.

Terkadang motivasi lain yang sering saya temukan juga adalah karena mereka ingin mengontrol pengeluaran mereka. Seperti yang kita tahu, kalau Anda memiliki rekening sendiri, maka Anda biasanya akan bebas mengambil uang Anda kapan pun Anda mau dan untuk tujuan apa pun.

Lain halnya kalau uang itu ada di sebuah rekening bersama, di mana seseorang tidak bisa mengambil uang di rekening itu untuk keperluan lain di luar yang sudah ia sepakati dengan pasangannya. Hal ini biasanya secara tidak langsung akan dapat menekan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu dari pasangan suami-istri.

Hal-hal di atas tadi merupakan efek positifnya. Adakah dampak negatifnya? Terkadang efek negatif yang akan muncul dari adanya rekening bersama adalah dapat terpecahnya kerukunan suami-istri hanya karena masalah uang. Ini bisa terjadi karena bisa saja salah satu pihak menggunakan uang dalam rekening itu untuk keperluan lain di luar yang sudah disepakati bersama. Hal ini bisa membuat pasangannya marah dan akhirnya terjadilah pertengkaran.

Bagaimana mengatasi efek negatif itu? Tidak ada yang bisa mengatasi efek negatif tersebut, kecuali pasangan suami-istri itu sendiri. Mereka harus benar-benar kembali lagi ke kesepakatan mereka semula, yaitu untuk keperluan apa saja uang dalam rekening bersama itu digunakan, apakah untuk investasi saja, atau untuk membayar pengeluaran-pengeluaran bulanan. Kalau memang untuk pengeluaran bulanan, maka konfirmasikan, pengeluaran-pengeluaran seperti apa yang sebaiknya dicover oleh rekening bersama, dan pengeluaran-pengeluaran seperti apa yang bukan tanggungan rekening bersama.

Untuk menghindari efek negatif, berikut ini ada sejumlah tips bagi Anda sebelum membuka rekening bersama:

  1. Diskusikan terlebih dahulu untuk tujuan apa Anda berdua membuka rekening bersama.
  2. Diskusikan juga apa yang akan Anda berdua lakukan terhadap isi rekening itu kalau Anda berdua mengalami kejadian yang tidak diinginkan yang menyebabkan Anda berdua harus berpisah.
  3. Diskusikan juga siapa yang akan memasukkan uang ke dalam rekening tersebut, dan berapa besarnya. Apakah suami Anda saja, atau patungan antara Anda berdua. Bila itu dilakukan secara patungan, berapa persen komposisinya? Apakah 50 : 50, 60 : 40 atau 70 : 30?
  4. Terserah Anda, karena Andalah yang lebih tahu bagaimana situasi dan kondisi keuangan dalam keluarga Anda.
  5. Untuk Anda yang sudah punya rekening bersama, bila sebelumnya Anda tak pernah menyepakati untuk apa uang dalam rekening bersama itu nantinya, sebaiknya konfirmasikan sekali lagi untuk keperluan apa uang dalam rekening itu akan digunakan.
  6. Sadarilah juga bahwa jangan sampai masalah uang memisahkan pasangan suami-istri. Karena sering kali si suami atau si istri menggunakan uang dalam rekening tanpa sepengetahuan pasangannya. Sehingga begitu rekening koran datang, terjadilah keributan.
  7. Bila rekening bersama itu digunakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran bulanan, maka saldo uang yang ada dalam rekening bersama sebaiknya sebesar minimal sebulan pengeluaran rutin mereka.

Lakukan evaluasi setiap bulan terhadap pengeluaran-pengeluaran yang telah dilakukan oleh Rekening bersama itu. Ini bisa dilakukan karena bank biasanya memberikan rekening koran setiap bulannya. (SSR)


Kiat Menghitung Modal Usaha

Nah, kali ini saya akan membagi rahasia kepada Anda tentang cara menghitung jumlah modal yang Anda butuhkan bila ingin memulai sebuah usaha.

Pada prinsipnya, dalam menjalankan usaha, hanya ada 3 jenis modal yang akan Anda keluarkan:

  1. Modal Investasi Awal
  2. Modal Kerja
  3. Modal Operasional

Mari kita membahasnya satu per satu.
1.MODAL INVESTASI AWAL
Apa sih yang dimaksud modal investasi awal? Ini adalah jenis modal yang harus Anda keluarkan di awal, dan biasanya dipakai untuk jangka panjang. Contoh-contoh modal ini adalah bangunan, peralatan seperti komputer, kendaraan, perabotan kantor dan barang-barang lain yang dipakai untuk jangka panjang.

Kalau usaha Anda usaha bengkel motor, maka modal investasi awal Anda adalah bangunan, alat-alat perbengkelan, dan perabot lain yang dibutuhkan di bengkel tersebut. Kalau usaha Anda toko, maka modal investasi awal Anda adalah rak, meja, bahkan mungkin juga mesin kasir.

Biasanya, modal ini nilainya cukup besar karena dipakai untuk jangka panjang. Tetapi nilai dari Modal Investasi Awal ini akan menyusut dari tahun ke tahun bahkan bisa dari bulan ke bulan.

2.MODAL KERJA
Ini adalah modal yang harus Anda keluarkan untuk membeli atau membuat barang dagangan Anda. Modal kerja ini bisa dikeluarkan setiap bulan, atau setiap datang order.

Sebagai contoh, kalau usaha Anda usaha tempat makan, maka modal kerja yang Anda butuhkan adalah modal untuk membeli bahan makanan. Kalau usaha Anda usaha pem buatan barang kerajinan, maka modal kerja Anda adalah uang yang Anda keluarkan untuk membeli bahan baku. Kalau usaha Anda adalah jasa fotokopi, ya modal kerja Anda uang yang Anda keluarkan untuk membeli kertas, tinta, dan lain sebagainya.

Prinsipnya, tanpa modal kerja, Anda tidak akan bisa menyelesaikan order Anda atau tidak memiliki barang dagangan. Nanti, bisa-bisa Anda malah tidak akan dapat pembeli karena barangnya saja tidak ada. Itulah pentingnya modal kerja.

3.MODAL OPERASIONAL
Modal yang terakhir adalah modal operasional. Modal operasional adalah modal yang harus Anda keluarkan untuk membayar biaya operasi bulanan dari bisnis Anda. Contohnya pembayaran gaji pegawai, pulsa telepon bulanan, PLN, air, bahkan retribusi.

Pos-pos dalam modal operasional ini pada setiap bisnis umumnya hampir sama. Ini karena pada prinsipnya, yang dimaksud dengan modal operasional adalah uang yang harus Anda keluarkan untuk membayar pos-pos biaya di luar bisnis Anda secara langsung. Jadi, Modal Operasional ini biasanya dibayar secara bulanan.

Nah, bagaimana Bapak Ibu? Gampang, kan? Sekarang, Anda bisa menghitung sendiri, kan, modal yang harus Anda keluarkan untuk memulai usaha. Mudah-mudahan bermanfaat ya. (SSR)


Materi Kuliah – Komunikasi Bisnis dan Sosial

Materi ini hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengambil kelas saya. Materi ini hanya dipakai acuan agar lebih memudahkan dalam proses perkuliahan.

Download ppt files (klik link dibawah ini):

  1. KOMBIZ-Bagian 1
  2. KOMBIZ-Bagian 2
  3. KOMBIZ-Bagian 3
  4. KOMBIZ-Bagian 4
  5. KOMBIZ-Bagian 5 rev1
  6. KOMBIZ-Bagian 6
  7. KOMBIZ-Bagian 7

P.S. Bagian materi terkait akan dijelaskan dalam proses perkuliahan. Modul ini sebagai pedoman dalam presentasi mahasiswa di kelas.


Materi Kuliah – Kewirausahaan

Berikut materi kuliah Kewirausahaan yg dapat dipakai sebagai pedoman umum bagi mahasiswa yang mengambil kelas saya. Informasi yang lebih lengkap dan menyeluruh dapat dicari melalui literatur (buku, artikel, karya tulis, dsb.) wirausaha yang relevan.

Download (klik link dibawah ini):

  1. Bagian 1 Pendahuluan
  2. Bagian 2 Konsep Wirausaha
  3. Bagian 3 Perilaku Usaha
  4. Bagian 4 Dunia Usaha
  5. Bagian 5 Badan Hukum Usaha
  6. Bagian 6 Motivasi
  7. Bagian 7 Rancangan Rencana Bisnis
  8. Bagian 8 Aplikasi Usaha Riil
  9. Bagian 9 Pelaporan Hasil Usaha

P.S. Materi tersebut hanya sebagai acuan, untuk memudahkan mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan.


The Secret

The greatest secret of life is the Law of Attraction. Before I understood this greatest of all secrets, I used to wonder how some of us are so lucky. They have it all. Good life, money, power, limousine and a great family life, everything that makes one a success. At the same time most of us are struggling. There seems to be a lack of everything. A streak of unhappiness seems to tear through their lives. I am sure most of you must be going through this phase in life. It is just that you have not yet known The Secret.

The Secret has been known to people through the ages. Great kings and emperors knew it all along and harnessed its power. Some of the best minds in this world like Einstein, Newton, Thoreau and Edison have acknowledged the infallible Law of Attraction. The Law of Attraction is quite simple really. Many of us are successfully applying the law in our life without even realizing it.

It all begins with a seed and bursts forth into the tree of life. Likewise, all action begins with a thought. Good thoughts beget good thoughts. Bad, negative thoughts give rise to more negativity. Like attracts like. One should attract positive thoughts. These thoughts would invariably result in positive action. Each positive action will pave the way to more positivity. One question I hear most often is: “How can I summon positive thoughts when all I feel is sadness, misery and loss?” There is no person on this earth who has never felt happy even if momentarily. Listen to your favorite music, recall your first crush, a childhood picnic, maybe! Get on to your favorite flight of fantasy and fly away into the clouds of happiness. And don’t let the feeling go. Belief and faith move mountains.

What do you really want? Holiday in Caribbean islands? It is yours. Don’t ask how or why. Don’t think “I don’t have any money for this holiday”. Think you are on your way. Simply visualize you being there, swimming in the emerald green waters. And you will be there. Just affirm and reaffirm your thoughts. The magic is in your thoughts. Nothing else matters. It is the law of nature. The positive energy you give out with each positive thought builds up into a train of positive vibrations and culminates into an affirmative action. Wealth, success and prosperity are yours for the asking.

Think and ye shall receive.

Attraction Accelerator Report, The Secret, Bob Proctor, Stephen Pierce