Pesta dan Paradigma dalam Kerja

job2pgSemalam saya baru pulang dari sebuah hajatan resepsi sahabat saat SMU dulu. Ditengah keramaian para tetamu undangan, saya bertemu dan bertegur sapa dengan beberapa kawan lama yang untungnya masih mengenali saya dengan baik. Mulailah kami bercerita satu sama lain tentang seputar diri, keluarga dan pekerjaan.

Pembicaraan yang sungguh bisa ditebak sebelumnya namun masih terdengar layak untuk dibicarakan. Muncul pertanyaan seputar sudah nikah blum? punya anak berapa? dulu lanjut kuliah dimana? sekarang tinggal dimana? kerja apa? uups! kerja? apa ga salah pertanyaan tuh? ya ga salah donk.. masalah pekerjaan selalu menjadi pertanyaan klasik disaat pesta “reuni” semacam ini. Selalu saja orang ingin tahu orang lain sampai ke hal-hal yang mungkin menjadi sangat pribadi untuk di share.

Kembali pertanyaan soal pekerjaan ini mengelitik benak saya. Setidaknya ada 2 pertanyaan soal pekerjaan yang muncul: dimana sekarang bekerja? dan kerja sebagai apa?

Bagi sebagian besar orang mungkin memiliki sebuah pekerjaan yang jelas, dalam arti punya tempat kerja yang jelas “ada” secara fisik dan bidang kerja yang jelas sesuai bidang keahlian menjadi sangat penting. Sehingga orang cenderung berusaha memaksakan diri mencapai itu. Misalnya menjadi pegawai di sebuah bank BUMN atau menjadi Dokter di sebuah rumah sakit internasional sekalipun. Semua diraih hanya dengan keinginan menunjukkan “status” bahwa sudah mempunyai pekerjaan yang layak di mata masyarakat. Dan yang pasti layak untuk diceritakan kepada kerabat, kawan atau orang yang baru dikenal sekalipun.😉

Nah, bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai pekerjaan yang jelas? dimana tempat mereka saat pesta seperti ini? hmm… ternyata mereka tidak banyak dapat bercerita dan cenderung menutup diri dan merasa tidak layak untuk diceritakan.

Tiba waktunya..tetamu dipersilahkan menyantap hidangan…hmm..maknyuzz..(dalam kondisi perut kosong dari rumah -sengaja)

Seorang kawan yang merasa punya “status” kerja ga jelas mundur dan datang menghampiri saya. Dia mulai bercerita tentang “kehidupan” saat ini yang dilakoni dengan seorang istri dan 2 orang anak dan menafkahi mereka. wehh..dari cerita tersebut saya berani menyimpulkan bahwa kawan saya ini jauh lebih baik dari mereka yang mengklaim dirinya punya status kerja yang jelas itu. Betapa tidak, seorang yang dianggap punya status kerja tidak jelas mampu menanggung hidup keluarga kecilnya dengan layak, tinggal dirumah yang baru dibeli tahun lalu dan pergi pakai mobil baru enam bulan dia lunasi kreditnya. wow.. kok bisa? pikir saya. Memang benar dari ceritanya bahwa pekerjaan yang dilakoni saat ini jauh dari kesan konvensional (e.g.kerja di perusahaan dgn jabatan terbaik), yang dia lakukan hanya kerja di rumah dan sesekali pergi bertemu klien jika diperlukan selebihnya semua dilakukannya di rumah pribadinya. hmm… sungguh cara kerja yang diluar dugaan mereka yang masih berpola pikir konvensional tentang pekerjaan.

Pantas saja ketika kawan lain menanyakan dimana dia kerja, dia hanya menjawab dengan senyum dan “di rumah aja..”. Dan praktis tidak dilanjutkan pertanyaan lain misalnya kerja apa? malahan mereka menyanggah “ah..yang bener kamu ga kerja..”. Padahal jika ditanya pun kawan saya ini siap untuk menjelaskan pekerjaannya ehh langsung saja di tuduh bahwa dia tidak punya pekerjaan.

Ditelusur lebih dalam, apa ada pekerjaan semacam itu yang bagi saya tidak biasa bagi orang kebanyakan. Ternyata ada banyak sekali pekerjaan yang bisa dilakukn tanpa harus pergi ke kantor perusahaan besar dan bahkan tanpa puya boss. Cukup dari rumah saja. Sebagai contoh teman saya tadi, pekerjaanya adalah sebagai online buying agent dimana dia bertugas memasarkan produk-produk apa saja dari produsen ke prospek customer di seluruh dunia. Singkatnya dia adalah makelar antara pabrikan/produsen dengan buyer/klien baik dalam maupun luar negeri. Modalnya ya hanya duduk di depan komputer (online) menyiapkan sebuah website dan menjawab/mengirim email penawaran atau pemintaan pembelian.. nahh gitu dehh..Ini hanya salah satu contoh saja bidang kerja yang tidak biasa dan tentu menjadi biasa bagi mereka yang telah malakoninya dan tebukti berhasil.

Sebuah pekerjaan ternyata tidak hanya dapat dilihat dari posisi/jabatan ataupun perusahaan kelas mana tempat kita bekerja. Tetapi lebih kepada sudut pandang kita terhadap sebuah pekerjaan. Saatnya kini kita harus berpikir lebih terbuka bahwa pilihan pekerjaan itu sangatlah beragam dan tidak terjebak oleh paradigma di masyarakat bahwa yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah status yang jelas. Apa kemudian jaminannya? yang jelas sebuah pekerjaan yang paling tidak mampu mensejahterakan kita dan keluarga secara materi dan mental maka pekerjaan tersebut layak untuk dipilih dan dilakoni.

Akhirnya pesta pun bubar karena sudah jam 09:00 wita dan tetamu satu per satu mulai meninggalkan tempat duduknya dan menyalami mempelai dan pulang… [IG. IWAN]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s