Tirtayatra AN-PNB 28-30/8-09

Hari minggu kemarin, 30 Agustus 2009, saya tidak di rumah tepat jam 6 pagi hari, dan melanjutkan tugas mengajar di stikom bali jam 8 pagi. Bukan apa-apa, kami (dosen jur.administrasi bisnis-PNB) selesai mengikuti kegiatan tirtayatra ke jawa (Pura Alas Purwo, Pura Pujon Malang, dan Pura Kertha Bumi Gresik) dari tgl. 18 s/d 30 Agustus 2009.

32 orang dosen ikut dalam kegiatan ini. Jauhnya jarak antar satu tempat dengan tempat lain membuat sebagian besar waktu habis dalam perjalanan (bus pariwisata-purnayasa group). Namun kesan di setiap pura yang kami kunjungi sungguh luar biasa.

PURA ALAS PURWO
Tanggal 28/8-09, Tepat jam 12.05 wita kami tiba di pelataran Pura Alas Purwo setelah menempuh setidaknya 45 menit perjalanan menembus hutan belantara dengan pohon-pohon menjulang tinggi. Hanya terdengar rintihan kecil suara daun ditiup angin malam di tengah kegelapan. Awalnya kami tidak percaya bahwa kami ternyata sudah sampai sebab tidak ada tanda-tanda penghuni pura (pemangku dll.). Setelah menelusuk ke dalam sebuah bangunan kecil, akhirnya kami menemui seorang pemangku pura, kami sempat tertegun dan heran, para pemangku selama ini tinggal di dalam hutan belantara sepi jauh dari pemukiman untuk mengabdi dan melayani umat se-dharma. Mesin Genset segera dihidupkan dan lampu pun menyala menerangi sekeliling pura alas purwo. Wow.. kami terkesima. Terbentang dihadapan kami keagungan sebuah pura berdiri megah dan kokoh diantara rimbun pepehonan hutan belantara. Dua candi bentar kas majapahit menjulang di bagian depan. Kami pun masuk dipandu oleh 2 orang pemangku ke halaman tengah pura. Kami pun memulai persembahyangan setelah sebelumnya menyiapkan perlengkapan. Sungguh luar biasa puja dipanjatkan di sebuah pura nan megah di dalam hutan belantara tepat jam 01.00 wita atau 00.00 wib. Setelah kurang lebih satu jam persembahyangan, kami pun mengakhiri dengan bersantap bersama ketupat lengkap ayam betutu dibawa dari bali. Tepat pukul 2.00 wib dini hari kami melanjutkan perjalanan ke Malang.

PURA PUJON MALANG
Tanggal 29/8-09, pagi jam 10.00 wita kami sampai di sebuah pura yang terletak di lereng pegunungan batu malang. Pura ini menjadi khas karena tepat betengger di lereng bukit dengan udara cukup dingin sempat membuat kaki saya kram kesemutan karena udara yang dingin itu. Ditempat ini juga, pemangku pura tinggal disebuah gubuk kecil di depan pelataran pura untuk melayani umat se-dharma bersembahyang. Pura ini sebagian besar dikunjungi oleh para mahasiswa asal bali yang kini kuliah di wialyah malang. Konon pura ini juga dibangun atas prakarsa beberapa orang mahasiswa. Yang membuat pura ini menjadi unik, menurut kami, adalah letaknya yang di atas bukit dengan pemandangan alam yang asri udara yang sejuk, terlihat hamparan pegunungan disekeliling dan kawasan pemukiman penduduk asli tepat dibawah bukit yang hampir seluruhnya muslim dengan 3 buah mesjid. Praktis persembahyangan kami awali dengan puja trisandhya pada siang itu terdengar sayup-sayup adzan berkumandang bersamaan yang mana sangat jarang terjadi di pura kawasan lainnya.

PURA KERTHA BUMI – GRESIK
Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Gresik Jawa Timur, pagi tanggal 30 Agustus 2009 tepat jam 7.00 wib dan tiba di gresik jam 10.00 wib. Setelah melewati daerah pemukiman padat penduduk di kota santri Gresik, bus kami pun terhenti karena sempitnya jalan yang harus dilalui menuju pura terakhir kami ini. Kami pun turun berjalan kaki melewati kawasan pemukiman penduduk menuju pura, layaknya sebuah karnaval budaya, dengan pakain adat bali, kami melintasi rumah demi rumah disaksikan warga yang antusias dan mungkin heran karena jarang melihat pemandangan ini (kami). Akhirnya tiba juga di halaman sebuah pura yang menurut kami cukup megah diantara pemukiman penduduk muslim. Hal yang diluar dugaan pun muncul, para pengempon pura sudah siap menyambut kedatangan kami yang tidak kami sangka. Mereka menyiapkan sarana persembahyangan dipandu oleh 3 orang pemangku pura setempat. Kami pun langsung melakukan persembahyangan di tempat ini. Setelah proses sembahyag selesai, kami menuju halaman depan pura, yang ajaib lagi sudah tersedia hidangan makan siang disuguhkan oleh pengempon pura dengan sukarela dan penuh kekrabatan. Kami pun bersantap siang, dengan sedikit pertanyaan dalam hati. Sejam pun terlewati dan makan siang pun selesai. Akhirnya tiba waktu ramah tamah dan pertanyaan dalam hati kami ungkapkan. Perlu diketahui Pura Kertha Bumi Gresik ini, seluruh pengempon atau warga pura adalah aseli suku madura, tidak satupun warga bali hindu yang ada disini. Dan yang paling unik disini adalah pakain sembahyang yang digunakan adalah pakaian adat madura serba hita dengan kaos garis merah di dada sungguh sangat berbeda nuansa dengan hindu bali kebanyakan. Bahasa yang dipakai mengantar pemujaan pun tidak lain bahasa madura. Satu hal lagi yang membuat kami tertegun adalah begitu banyak warga madura yang menjadi pengempon pura ini (kurang lebih 450 KK).

Hari sudah agak sore, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke Bali melewati pelabuhan ketapang-gilimanuk.

(dari Klinik Drg. Komang)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s