Jika PKL itu adalah PKL?

Memajang Dagangan ala PKL

Istilah PKL mungkin tidak asing lagi di telinga Anda. Bagi Anda yang tinggal di kota-kota besar, PKL identik dengan Pedagang Kaki Lima. Nah bagaimana jika Anda adalah seorang mahasiswa Diploma? tentu PKL ini identik dengan Praktek Kerja Lapangan yang wajib dilaksanakan pada semester akhir kuliah. Kedua jenis PKL ini sama pentingnya sebab memiliki makna kerja, usaha nyata di lapangan.

Para Pedagang Kaki Lima (PKL) sesungguhnya sedang menjalankan praktek kerja lapangan untuk mencari nafkah menghidupi keluarganya, namun bagaimana jika seorang mahasiswa mengambil Praktek Kerja Lapangan (PKL) sebagai seorang pedagang kaki lima? Tentu ini menjadi menarik sebab tidak banyak mahasiswa mau dan mampu melakukannya. Mahasiswa PKL dituntut dan hanya mau PKL di perusahaan-perusahaan besar dimana nantinya setelah PKL diharapkan terbiasa dengan kondisi di dunia kerja. Jarang sekali yang berpikir untuk PKL di perusahaan kecil atau bahkan magang sebagai seorang Pedagang Kaki Lima (PKL).

Sesungguhnya, ada hal yang mendasar melatarbelakangi mahasiswa untuk selalu mencari kesempatan magang (PKL) di perusahaan yaitu pemikiran untuk bekerja sebagai seorang pegawai/karyawan sebuah perusahaan suatu saat lulus kuliah. Padahal, saat kuliah sudah diajarkan bagaimana menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui materi-materi entrepreneurship yang memungkinkan mahasiswa saat lulus kuliah bekerja untuk diri sendiri dan menjadi atasan sekaligus bos perusahaan sendiri.

Prinsip kewirausahaan ini sesungguhnya sudah lebih dari cukup bagi mahasiswa untuk berpikir dimana sebaiknya magang (PKL) yang nantinya mematangkan mereka dalam dunia kerja dan menjadi bos untuk perusahaan mereka sendiri. Magang sebagai pedagang kaki lima adalah salah satu sarana mematangkan jiwa kewirausahaan.

Dilain pihak, para pedagang kaki lima sering sekali dianggap menggangu ketertiban umum sehingga sangat sering berurusan dengan petugas trantib. Seharusnya mereka dibina dan diarahkan dengan benar dan manusiawi sehingga benih-benih jiwa kewirausahaan yang sudah dimulai dapat tumbuh dan berkembang sehingga ikut andil dalam meningkatkan perekonomian negara. Seperti yang sering disampaikan banyak pihak bahwa suatu negara dapat dikategorikan sebagai negara maju apabila setidaknya memiliki 2% pengusaha dari seluruh penduduknya. Nah, jika dilirik di Negara Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, maka setidaknya perlu 4 juta orang pengusaha dan seorang pengusaha yang sukses lahir dari benih-benih jiwa kewirausahaan seperti para pedagang kaki lima yang selama ini sering digusur.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s