Berhentilah mengeluh, sahabatku.

Belum juga sedepa kaki ini melangkah, terhenti tepat dihadapan sebuah gubuk bambu penuh padi penanda panen telah usai. Temaram senja belum juga nampak, langkah gontai seorang sahabat sesekali tengadah menatap cakrawala. Bukan kurangnya panen hari ini, bukan juga badan telah lelah menggarap lahan, namun letih sebab sadar hari akan segera berganti kembali.

Berpuluh petak sawah telah tergarap, tiada lagi padi tampak menguning berganti jerami sejauh mata memandang, terbujur rata tanpa berharap menir akan kembali. Disekeliling pagar pembatas, terpancang beton kokoh tegak berdiri menggantikan rumput yang menghijau di musim penghujan. Kini tiada lagi hembusan angin sumilir yang menyejukkan itu, tiada lagi suara pipit yang ceria di pagi hari, tiada lagi gemericik air pematang.

Terhimpit cara hidup kekinian penuh hingar bingar memecah kesunyian. Akhirnya sepakat menyingkirkan kesejukan embun pagi dengan gemerlapnya kehidupan politan. Jangan mengeluh, sahabatku semua telah berubah. Segala yang hampa menjadi sirna, segala yang papa menjadi materialistis.

Kini yang tersisa hanya engkau, dia dan aku.

– Jimbaran, tengah malam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s